Berbicara tentang kisah cinta seakan tidak
menemui tanda titik, tak ada habis-habisnya. Hampir semua novel Tere Liye (kecuali
novel anak) selalu dibumbui kisah cinta di dalamnya, termasuk yang berjudul
Selamat Tinggal.
Novel terbitan tahun 2020 ini memiliki tokoh
utama bernama Sintong Tinggal, lelaki muda dari Medan yang tinggal di
perantauan untuk menyelesaikan masa kuliahnya di jurusan sastra. Sambil kuliah
Sintong bekerja menjadi penjaga di toko buku pamannya. Meskipun bernama Berkah,
toko ini menjual buku-buku bajakan. Dalam novel ini, isu pembajakan memang
menjadi fokus utama penulis. Pembaca akan disuguhi betapa kejamnya dampak dari
pembajakan tersebut, sesuatu yang sering diabaikan dengan dalih ingin harga
yang lebih murah.
Kisah cinta Sintong dalam novel ini menurut
saya cukup menarik dan menggelitik. Meskipun tidak pernah mengalaminya sama
persis, saya banyak belajar tentang dunia asmara dari Sintong. Diawali dengan
hubungannya dengan Mawar Terang Bulan, seorang gadis yang disukainya selama
tiga tahun di bangku SMA yang secara khusus datang mengantar Sintong saat ia
hendak merantau. Bahkan Mawar Terang Bulan memberinya sesetoples kue kering
yang menjadi teman perjalanan Sintong. Perlakuan khusus Mawar Terang Bulan
membuat Sintong melayang, tak berhenti di situ mereka pun saling berbalas surat
selama dua tahun. Amboi benar.
Meskipun berakhir tragis karena pada akhirya
Mawar lebih memilih menikah dengan pariban-nya,
seorang tentara dengan pangkat letnan dua, kelakuan Sintong saat jatuh cinta
cukup mewakili anak muda pada umumnya. Sintong menyimpan stoples bekas kue
pemberian Mawar Terang Bulan seolah menjadi barang paling berharga yang ia
miliki, begitulah orang saat jatuh cinta, apa saja jadi berharga jika berasal
dari pujaan hatinya. Ketika hendak menemui Mawar Terang Bulan, Sintong pun berdandan
kelimis sampai-sampai inangnya mengiranya tukang kredit. Siapa yang tak ingin
tampil sempurna di hadapan orang yang dicintainya. Menariknya lagi, kehadiran
Mawar Terang Bulan ternyata tidak hanya sebagai masa lalu Sintong, ia
dihadirkan kembali dengan konflik yang dialaminya sehingga menjadi menambah warna
cerita novel Selamat Tinggal.
Ketika hampir kena drop out karena sudah hampir enam atau tujuh tahun tidak juga
lulus, Sintong dipertemukan dengan dua orang gadis bernama Jess dan Bunga. Pertemuan
mereka berawal saat Jess dan Bunga mampir ke toko buk yang dijaga Sintong.
Meskipun ceplas-ceplos dalam berbicara, Jess menjadi seseorang yang cukup
menarik bagi Sintong. Pemuda ini pun berusaha untuk mendekati Jess, meskipun
itu artinya ia juga harus berhadapan dengan Bunga, sahabat Jess yang cukup
menjengkelkan bagi Sintong pada awalnya.
Kehadiran Jess dan Bunga membawa perubahan yang
cukup drastis bagi Sintong. Ia jadi lebih semangat menyelesaikan masa studinya,
selain ini Sintong pun kembali menulis. Simpati yang diperoleh dari Jess seolah
menjadi bonus bagi Sintong. Jatuh cinta memang sering menjadi sesuatu tak kasat
mata yang tiba-tiba menjadi api penyulut bagi sesorang untuk memperbaiki hidupnya.
Kisah cinta Sintong dalam novel ini memang tidak selalu berjalan mulus, tetapi
suskes menambah gairah pembaca untuk menamatkannya.
"Bukan perasaan yang keliru, itu selalu
benar. Tapi waktunya, datang diwaktu yang keliru. Tempatnya tumbuh di tempat
yang salah, Tidak akan mekar tunasnya, Apalagi berbunga. Tidak."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar