Hari ini cukup
melelahkan, rutinitas seabrek membuat kepalaku sedikit pening. But, finally ini
sudah jam empat lewat, waktunya pulang. Seperti biasa aku duduk di kursi depan
bus jemputan. Tanganku mulai asyik memainkan ponsel putih kesayanganku, aku termenung
sejanak membaca postingan kakak kelasku di akun instagramnya.
“Membahagiakan diri sendiri itu perlu,
agar kamu benar-benar mampu membahagiakan orang lain dengan tulus sepenuhnya.”
What? Benarkah?
Biasanya aku seringnya mendengar kalimat bahwa membahagiakan orang lain itu lebih
utama, dan kalimat barusan seakan menyuruhku untuk menyenangkan diri sendiri
dulu. Aku mulai memikirkannya dalam-dalam. Aku mulai tersadar, yapp bagaimana
mungkin kita mau mambuat orang lain tersenyum sedangkan diri kita sendiri
sedang menangis? Bagaimana mungkin kita akan menggandeng tangan orang lain jika
jari-jari kita terluka? Bagaimana mungkin kita mau menyemangati orang lain
sedangkan diri kita sendiri sedang putus asa? Dan masih banyak lagi kalimat
tanya bagaiman yang tiba-tiba muncul begitu saja di pikiranku.
Okay, akhirnya aku bekesimpulan, setidaknya
kita dalam kondisi bahagia jika ingin membuat orang lain bahagia. Kita juga tidak
boleh menyampingkan hak diri kita sendiri bukan?. Toh sebenarnya untuk bahagia
itu juga tak selamanya butuh berlebihan untuk meraihnya, dengan cara bersyukur
contohnya. Yappp begitulah sedikit pelajaran yang bisa aku ambil dari sore yang
mulai gelap ini.#30WDC5day1